KOLABORASI MENCIPTAKAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

Hanifia Rizky- CGP Angkatan 10

 

Budaya positif adalah sesuatu yang melekat dengan baik dan membudaya di sekolah. Penerapan budaya positif di sekolah dapat dimulai dari Menyusun keyakinan kelas. Keyakinan kelas adalah nilai-nilai Kebajikan yang diyakini oleh warga kelas. Untuk mewujudkan keyakinan kelas, peran wali kelas sangat penting, untuk memfasilitasi pendapat, perasaan, harapan murid di kelas. Sehingga keyakinan kelas dapat terpatri dalam setiap diri murid.

Keyakinan kelas menjadi landasan dalam bertindak karena mencakup nilai – nilai kebaikan yang diyakini setiap murid, dengan harapan murid meyakini dengan baik dan melaksanakannya, maka keyakinan kelas ini akan menjadi keyakinan sekolah. Apabila sudah mencapai keyakinan sekolah, maka akan menjadi budaya di sekolah.

Selain keyakinan kelas yang bisa diterapkan kepada peserta didik adalah peran wali kelas dan guru piket dalam mengobservasi  perkembangan peserta didik, tentunya dalam hal ini, guru memperhatikan dan memiliki sistem kontrol yang memanusiakan murid. Diperlukan upaya untuk mempunyai posisi kontrol sebagai manager, karena dengan posisi manager, guru dapat memerankan posisi kontrol sebagai sosok yang memiliki power untuk menyelesaikan masalah murid. Sebagai guru sudah seharusnya meninggalkan budaya menghukum, untuk mengarah bahkan mengambil sikap sebagai manager. Hal ini penting karena posisi kontrol menghukum , tidak membangun budaya positif di sekolah, murid menjadi takut dan tidak nyaman,  Selanjutnya posisi kontrol yang dianjurkan adalah posisi manager dengan menerapkan segitiga restitusi.

Segitiga restitusi adalah upaya penyelesaian masalah pada murid dengan harapan mengembalikan murid tersebut agar dapat diterima dengan kelompoknya. Dalam hal ini guru melakukan penstabilan identitas, validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan kelas yang dilanggar. Setelah melakukan segitiga restitusi dan menanyakan seputar apa yang dialami oleh peserta  didik,  Sehingga pendidik dapat mengetahui profil dan latar belakang murid dalam melakukan suatu hal di sekolah.

Penerapan selanjutnya adalah melakukan diskusi kecil dengan wali kelas untuk menanyakan upaya wali kelas dalam membangun budaya positif di kelas, tantangan yang dihadapi serta bagaimana respon peserta didik dalam menerapkan keyakinan di kelas. Ketika keyakinan kelas sudah ada pada diri murid, maka budaya positif akan mengakar kuat di sekolah. Penerapan budaya positif yang tidak kalah penting adalah peran guru piket dalam mensukseskan budaya positif di sekolah. Guru piket dan rekan guru harus menjadi tim yang solid dalam menerapakan keyakinan kelas dan sekolah pada murid. Melalui peran guru piket, maka peran kontrol guru sebagai manager, setiap harinya menjadi budaya positif sekolah menjadi terarah. Oleh karenanya penting membangun komunikasi yang baik dengan guru piket, wali kelas dalam menerapkan budaya positif di sekolah.

Dengan demikian, upaya penerapan budaya positif dapat diwujudkan dan secara konsisten diterapkan, jika rekan guru membangun tim yang kuat untuk berkolaborasi menerapkan budaya positif di sekolah. Hal ini penting karena guru yang teredukasi dengan paparan sosialisasi budaya positif, maka nilai kebajikan akan terinternalisasi pada diri murid.


      



 


Komentar

Postingan populer dari blog ini